REVIEW FILM “ NEGERI LIMA MENARA”

Kalau sudah membaca novelnya, pasti penasaran dong sama filmnya. That was i felt. And finally i got a chance to watch it yesterday.

Ini gak bisa dibilang review. Mungkin lebih cocok disebut judging nih. Kalau dibandingkan dengan novel yah pasti banyak yang beda karena namanya juga ‘film yang diadaptasi’. Kalau dibandingkan dengan novel of course ‘reading the novel is much better than its movie’. Setiap orang akan memiliki imaginasi mereka sendiri saat membaca novel dan saat mereka membandingkannya dengan film. Tentu saja mereka menganggap imaginasi mereka lebih baik daripada film.

Tentang actor dan acting

Kalau pemilihan actor cuma satu yang agak kecewa banget. Why pemeran Randai musti si Kipli “Kiamat Sudah Dekat”. WHY??? Setahuku Randai dan Alif sama-sama pintar. Dan apakah tampang Kipli dapat mempresentasikan itu? I don’t think so. Untuk pemeran para Sahibul Menara i found it there’s no problem. Meskipun si Gaza yang memerankan Alif too handsome menurutku daripada tokoh aslinya tapi ndak apalah.

Okay kita bahas dari awal-awal film dulu. Mungkin karena saya hanya berkesempatan nonton setelah ditayangkan di Televisi Swasta dan itupun nontonnya numpang di kamar temen kosan #curhat jadi agak kurang jelas dengerin dialognya. Dari segi logat ngomong minangnya ya masihlah kurang tapi yah masih juga dalam tahap yang masih dapat dimaklumi. There’s too many kata ‘masih’. Hehe.

Setelah Alif sampe di Pondok Madani. Percakapan antara sesama mereka rasa-rasanya agak kurang jelas dan rasa-rasanya memiliki problema yang sama dengan Laskar Pelangi. Agak sulit buat ngejelasinnya. Intinya si aktor ngomong bla bal.. but ‘??’. Pokoknya kurang jelaslah dan agak kurang bisa dimengerti. Dan jika anda-anda yang sebelumnya tidak pernah membaca novelnya akan semakin menimbulkan tanda tanya. Setelah si aktor ngomong you would say “Maksudnya???”. Bahkan saya aja yang sudah baca tetap merasa “Hah?? Apaan ya tadi??”. Kebetulan saya nonton sama teman saya, ya namanya juga numpang nonton di tempat orang lain #sekali lagi curhat. Jadi setiap ada kesempatan saya akan ngasih petunjuk sama teman saya yang belum pernah sama sekali membaca novelnya. Jadi sangat disarankan sekali  “Bacalah novel “Negeri Lima Menara” sebelum nonton filmnya”!!

Mari kita beranjak ke penilaian acting. Dari keenam Sahibul Menara, acting Baso cukup bagus menurutku. Sahid juga sih. Sementara yang lain sepertinya kurang banyak terekspos jadi ya begitulah. Untuk pemeran Alif sendiri yah, lumayan dapetlah karakter polosnya. Saya sedikit kecewa dengan pemeran Radja, saya pengen liat lebih dari dia tapi ya sekali lagi kurang terekspos menurutku. Jujur bgt sebelumnya saya sudah melihat aksi mereka di balik layar dan mendengar komen-komen pemain lain. But it’s not as good as they said. Too many praises menurutku. Atau ekspektasiku yang terlalu tinggi terhadap film ini ya yang jadi penyebabnya.

Lanjut ke pemeran ustadz Salman. Yah lumayan. Tapi adegan pas dia memotong kayu dengan pedang berkarat itu benar-benar menimbulkan tanda tanya besar bagi temanku yang sama sekali belum pernah membaca novelnya. Lanjut ke Andika Pratama, actingnya gimana ya. Kalau kata temanku sih bahasanya terlalu ketinggian. Tapi yah sudahlah saya gak berharap lebih kok sama actingnya. Gak apa-apa. Yang sedikit membuat saya terkejut adalah Ikang Fauzi. Jujur saja i don’t really like him. But ternyata he’s quite good meranin Kiai Rais. Ini ada di luar dugaanku. And sudah semua belum ya? Oh iya, adegan pas mereka ketakutan dihukum Jarot. Tidak seseram pas baca novelnya. Aura yang memerankan Jarot masih kurang seram. Ini kok jadi serasa ngebahas film horor ya. Hihi.

Well, sudah cukup menurutku. Ini seperti ngeluarin uneg-uneg  setelah nonton film “Negeri Lima Menara” semalam. Oh iya kelupaan di behind the scene tuh Ahmad Fuadi ( pengarang novel “Negeri Lima Menara”) ngomong dia berharap meskipun ada banyak hal yang berbeda antara novel dan filmnya semoga semangat persahabatan dan menuntut ilmu tuh tetap tersampaikan. Dan menurutku, semangat persahabatan dapet sih tapi semangat menuntut ilmunya masih kurang. Mestinya diperlihatkan pas mereka belajar menggunakan B. Inggris dan B. Arab sebagai bahasa percakapan sehari-hari di asrama. Tapi memang agak sulit mungkin untuk menampilkannya. Dan itu apa gara-gara saya nonton di TV ya jadi agak kepotong. Trus yang mereka ramai-ramai begadang buat belajar sebelum ujian juga gak ada. Padahal itu menurutku bagus banget buat mnyampaikan semangat menuntut ilmu. Coba sutradaranya saya. Haha.

That’s it. That’s all. Bye.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s